deforestasi

Jangan Nakal Kau Kutangkap

 Jangan Nakal Kau Kutangkap. Adalah seorang oknum masyarakat yang tertangkap karena melakukan perambahan/pengawenan (Bali) jenis tanaman kopi di dalam Kawasan Hutan Lindung RTK 19 Br. Arca Desa Pulukan Kecamatan Mendoyo Kab. Jembrana, Bali. Perilaku perambahan mempunyai daya rusak yang hebat bagi ekosistem Hutan dibanding illegal loging. Investigasi menunjukkan bahwa lahan garapan hasil permbahan tersebut juga diperjualkan belikan oleh masyrakat berkisar 1 jt s/d 1,5 juta per petak (0,5 Ha), inilah jual beli tanah negara. Himahnya adalah bukan sebanyak mungkin menangkap perambah tapi bagaimana mengalihkan kebutuhan ekonomi mereka tanpa harus merusak Ekosistem Hutan.

Mencoba Tegak

Mencoba Tegak. Berlokasi di Hutan Lindung RTK 19 Desa Penyaringan Kec. Mendoyo Kab. Jembrana Bali. Ini adalah perilaku oknum tidak bertanggungjawab yang membabat habis Hutan Lindung yang tadinya tidak ada kerusakan Hutan sama sekali. Kurang lebih 5 Ha hutan yang tadinya paling lestari di Jembrana menjadi rusak. Pohon ini layaknya sebuah permainan bagi oknum tersebut dan ingin memberikan pesan bagi petugas, yang tidak lain untuk meremehkan petugas.

Yang Masih Tersisa

Yang Masih Tersisa. Berlokasi di Hutan Lindung RTK 19 Dusun Pancaseming Desa Batuagung Kec. Jembrana, Kab. Jembrana, Bali. Ini adalah akar pohon dari pohon yang tumbang karena perilaku illegal loging. Perambahan kawasan hutan atau di Bali sering disebut perilaku Pengawenan, telah merusak hutan sangat luar biasa. 30 % hutan di Jembrana rusak karena perilaku ini. Dan yang dihadapannya adalah kawasan Hutan Lindung yang mencoba bertahan dari perilaku pengawenan, semoga tidak meluas.

Illegal Loging

Illegal Loging. Berlokasi di Kawasan Hutan Lindung RTK 18 Lingkungan Munduk Waru Kelurahan Dauh Waru Kec. Jembrana Kab. Jembnrana Provinsi Bali. Pohon yang ditebang adalah jenis Teep (Artocarpus integra) yang berdiameter sekitar 200 cm

Saat Orangutan Menjadi Hama

22 November 2010Peniraman, Sungai Pinyuh - Kalimantan Barat.Dua ekor orangutan, induk dan anaknya, tertangkap dan jadi tontonan oleh penduduk karena memasuki area ladang dan kebun penduduk setempat.  Untuk bisa melumpuhkannya penduduk memukuli, merendamnya dalam kolam lalu mengikatnya. Diperkirakan akibat hutan-hutan tempat habitat orangutan yang terus menyusut menyebabkan orangutan itu berkeliaran di ladang dan kebun penduduk untuk mencari makan. Saat itulah orangutan sebagai binatang yang dilindungi undang-undang dianggap menjadi hama bagi masyarakat. Akhirnya induk orangutan itu kemudian mati. (Feri Latief)

Sindikasikan konten