Khaleb Yordan

Poisonous

Menjelajahi hutan yang masih alami di kawasan Taman Safari Indonesia, Cisarua pada malam hari sangatlah berbeda dibandingkan saat siang hari. Pada malam hari yang terdengar hanya bunyi suara serangga, kodok, dan angin yang bertiup. Sudah cukup sering saya jalan-jalan malam di hutan, namun jarang sekali menemukan Ular yang beracun. Kali ini saya berjumpa dengan seekor anakan Ular bandotan (kata orang lokal) nama latinnya Trimeresurus puniceus. Ini merupakan jenis yang memiliki racun tingkat tinggi, oleh karena itu pengambilan fotonya cukup lama. Awalnya saya menggunakan lensa 55-250mm, namun hasilnya kurang memuaskan. Setelah itu saya menggunakan Kamera dan lensa 18-55mm + Converter (Macro) yang dipinjamkan oleh pacar saya. Saya memberanikan diri untuk lebih dekat dengan jenis yang satu ini. Ternyata diluar dugaan, ular ini nampak sangat tidak agresif, sehingga saya dapat mendekatinya dengan leluasa (namun tetap tidak melakukan gerakan yang mendadak). Akhirnya beberapa pose saya dapatkan dengan hasil yang cukup memuaskan.

Itik Benjut

Mungkin dibeberapa wilayah jenis ini sudah cukup langka karena sering kali menjadi target untuk ditembak. Dan mungkin kebanyakan orang mengenal jenis ini sebagai Belibis. Perkenalkan ini merupakan jenis Itik Benjut / Sunda Teal (Anas gibberifrons). Berbeda dengan Belibis (Dendrocygna sp), jenis ini memiliki ciri yang sangat khas yakni diatas kepalanya ada sebuah benjolan. Itulah mengapa jenis ini dinamai sebagai itik Benjut (benjol). Itik Benjut sangatlah sensitif dengan kedatangan manusia, sering kali kita belum melihatnya, mereka sudah terbang duluan. Namun berbeda jika kita sudah mengetahui karakteristik, lokasi yang sering dikunjungi mereka. Inilah pengalaman saya, sehari di hutan mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke. Saya sudah sering mengunjungi tempat ini, dan beberapa kali sangat susah mengabadikan jenis pemalu yang satu ini. Hingga pada saat tanggal 3 Maret 2011 saya dengan rekan saya dari Kalimantan melihat sepasang Itik Benjut sedang berjemur diatas sebuah pohon yang sudah mati. Saya langsung memberi tahu mereka agar tidak melakukan gerakan mendadak, karena itik ini sangatlah sensitif. Kami pun bergerak perlahan untuk mengambil foto yang bersih tanpa ada daun-daun yang menghalangi. Dengan tidak melakukan gerakan mendadak, pasangan itik benjut tersebut merasa tidak terancam oleh kedatangan kita. Akhirnya foto itik benjutpun saya dapatkan.

Elang Hitam

Sehari di Hutan kawasan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol sangatlah menyenangkan. Kita dapat melihat indahnya view Hutan yang masih alami dari catwalk, melihat beberapa Air Terjun alami, berjalan diatas Canopy Trail, dan menikmati indahnya hutan Bodogol selama dijalur trekking. Jika anda beruntung kita dapat melihat gagahnya burung elang yang sedang terbang mencari mangsanya. Salah satu burung elang yang masih menghuni hutan Bodogol ini adalah Elang Hitam / Black Eagle (Ictinaetus malayensis) dengan warna hitam dan paruh kuning. Saya melihat elang ini ketika saya sudah mengakhiri perjalanan saya di dalam kawasan hutan bodogol. Kira-kira 200m dari portal pintu masuk saya melihat seekor Elang Hitam sedang terbang tidak terlalu tinggi dari tanah dan jaraknya tidak terlalu jauh. Ketika kamera saya sudah siap, saya melihat..loohh, kemana elang tersebut?? Saya mengira bahwa Elang Hitam tadi sudah terbang menjauh, ternyata dia sedang di sawah tepat dibawah saya. Dengan segera Elang Hitam tersebut terbang naik mengepakkan sayapnya yang besar, sayapun langsung mengarahkan kamera saya. Beberapa petani yang sedang bekerja di sawah tersebut berteriak ketika sang elang terbang naik dari sawah mereka, ternyata elang tersebut baru saja menangkap seekor tikus yang menjadi hama bagi petani.

Target Yang Dinanti

Sudah pernah lihat burung yang satu ini??? Mungkin untuk burung yang satu ini kurang terkenal karena jarang sekali terekspos. Burung ini adalah jenis Paruh Kodok Jawa / Javan Frogmouth (Batrachostomus javensis). Awalnya saya melihat jenis ini hanya dalam foto orang lain saja. Dari sinilah timbul rasa ingin tahu saya terhadap jenis yang satu ini dan ingin mendapatkan fotonya. Saya mendapatkan informasi dari teman saya bahwa burung ini cukup mudah ditemukan pada siang hari, karena dia beristirahat di siang hari. Sayapun mencoba untuk mencarinya di Hutan Wisata Alam Carita di siang hari. Ah, ternyata sulit sekali bagi saya untuk melihat jenis yang satu ini, belum lagi karena ukurannya yang tidak terlalu besar (25cm) dan warnanya yang coklat seperti warna batang pohon. Kemudian saya mencoba mencarinya di malam hari. Akhirnya saya dapat melihatnya, namun burung itu masih nampak sangat kecil karena jaraknya yang cukup jauh. Suatu saat saya dan keluarga berwisata ke Taman Safari Indonesia, dimana letaknya di kaki Gunung Gede Pangrango. Karena masih penasaran dengan si Paruh Kodok Jawa, saya dengan niat yang tinggi bangun jam 4 pagi untuk mencoba mencari jenis tersebut. Ditemani oleh ayah saya dengan membawa 2 buah senter dan sebuah speaker, saya mulai memasuki hutan yang sangat gelap dan dingin.

Mutiara Melotot

Sehari di dalam gelapnya Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak sangatlah menyenangkan untuk saya, karena disini kita dapat melihat beberapa satwa menarik yang aktif pada malam hari. Salah satu yang membuat saya sangat senang adalah ketika saya melihat katak yang satu ini. Ini merupakan pertama kalinya saya melihat dan mengabadikan foto Katak Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer) yang merupakan salah satu jenis Endemik di Pulau Jawa. Katak ini terlihat seperti bertabur mutiara-mutiara di tubuhnya, sehingga terlihat sangat cantik. Tidak seperti katak-katak lain yang saya temukan, jenis ini nampak tidak takut dengan saya. Sampai akhirnya saya dapat mendekati katak ini dengan jarak yang sangat amat dekat. Wow! jenis yang sangat indah dan mahal sama seperti namanya. Inilah hutan Indonesia yang masih menyimpan berbagai macam satwa yang sangat unik dan mahal yang harus dilestarikan keberadaanya.

Sindikasikan konten